Arsip untuk ayah

Penyesalan

Posted in Ghoib, Little child, Long Road, New World, Song For Live, Starting Live dengan kaitan (tags) , , , , , , , , on September 28, 2009 by journeygotodie

Terpudar sudah masa remaja penuh cerita
Berganti dengan Penyesalan karena waktu yang terlewati dengan sia-sia
Dulu Ketika di titipkan masa – masa keemasan mu
Kau sejenak terlupa pada cita – cita dan harap mu

Tahun berganti tahun terus saja tak ada yang berubah pada dirimu
Hingga suatu saat kau dipertemukan oleh tuhan dengan seorang yang dapat merubah hidupmu
merubah jalan pikiran mu…merubah jiwa mu…merubah iman mu..dan bahkan merubah pribadi mu..
Ya…orang itu adalah orang yang paling istimewa yang di kirim oleh tuhan tuk dirimu

Namun..apa yang terjadi kemudian sangat lah tak menentu…
Segala kesalahan masa lalu yang tidak bisa kau sikapi dengan bijak,tak jua mendewasakan mu
Bahkan kau semakin terpuruk jauh dalam ke khufuran mu…karena kefakiran mu..
Ya allah jauh kan lah kami semua dari sifat kekhufuran atas nikmat mu…

Entah sudah berapa ribu kali bulan dan matahari terus berganti – gantian mendampingi perjalanan hidupmu..
Keadaan mu kini telah berubah…kau tak lagi sendiri..ada anak..dan istri yang menanti mu pulang kerumah membawakan kebahagiaan bagi mereka..
Namun begitu malang nya nasib mu…hanya keluh kesah yang kau berikan pada anak istrimu setiap kali kau pulang kerumah yang kau bangun dulu karena cinta..
Keadaan mu kini sungguh jauh menyedihkan..semua teman dan saudara menjauh hilang bersama butiran tetesan madu kenangan yang begitu pahit..

Kini di titik nadir pengaharapan asa mu harus kemana lagi kau curahkan segala keluh kesah tentang keadaanmu…
Allah…ya hanya kepada Allah kita meminta pertolongan…
Basuh semua penat di jiwa dan raga kita dengan air suci…
Tengadahkan tangan seraya menangis sedu sedan dengan segala kefakiran mu
Allah lah sesungguhnya tempatnya segala kunci kebahagiaan dunia dan akhirat…

Sebait Puisi Dari Surga

Posted in Little child dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on Maret 30, 2009 by journeygotodie

Anak Serapuh Ini Mampukah Kita Membunuhnya

Anak Serapuh Ini Mampukah Kita Membunuhnya

Mama sayang,

Aku di surga sekarang, duduk di pangkuan Tuhan.
Ia mengasihiku dan menangis bersamaku sebab
pedih pilu hatiku. Begitu ingin aku menjadi putri
mungil mu.

Tidak terlalu mengerti aku akan apa yang telah
terjadi. Aku begitu bergairah ketika mulai
menyadari keberadaanku. Aku ada di suatu tempat yang
gelap, namun nyaman. Aku melihat aku punya jari-
jari dan jempol. Aku cantik seturut
perkembanganku, tapi belum siap meninggalkan
tempatku.

Aku menghabiskan sebagian besar waktuku
dengan berpikir atau tidur. Bahkan sejak hari-hari
pertamaku, aku merasakan ikatan istimewa antara
engkau dan aku.

Kadang aku mendengarmu menangis, dan aku
menangis bersamamu.

Kadang engkau berteriak dan memaki, lalu aku
menangis.

Aku dengar Papa memaki balik.

Aku sedih dan berharap engkau akan segera baik
kembali.

Aku heran mengapa engkau begitu sering
menangis.

Suatu hari engkau menangis hampir sepanjang
hari.

Pilu hatiku karenanya.

Tak dapat kubayangkan mengapa engkau begitu
berduka.

Pada hari itu juga, hal yang paling mengerikan
terjadi.

Suatu monster yang amat keji masuk ke tempat
hangat dan nyaman di mana aku berada.

Aku sangat takut, aku mulai menjerit, tapi tak
sekalipun engkau berusaha menolong. Mungkin
engkau tak pernah mendengarku……..

Monster itu semakin lama semakin dekat
sementara aku terus berteriak, “Mama, Mama, tolong aku…..,
Mama……tolong aku.”

Suatu teror yang ngeri aku rasakan. Aku berteriak
dan berteriak…….hingga tak sanggup lagi. Lalu
monster itu mulai mencabik lenganku. Sungguh
sakit rasanya, sakit yang tak kan pernah dapat
kuungkapkan dengan kata. Monster itu tidak
berhenti. Oh….bagaimana aku harus mohon agar ia
berhenti. Aku menjerit sekuat tenaga sementara ia
mencabik putus kakiku.

Sepenuhnya aku dalam kesakitan, aku sekarat.

Aku tahu tak kan pernah aku melihat wajahmu atau
mendengarmu membisikkan betapa engkau
mengasihiku.

Aku ingin menghapus butir-butir air matamu.

Aku punya begitu banyak rencana untuk
membuatmu bahagia, Mama….Tapi aku tak dapat.
Mimpi-mimpiku musnah sudah.

Walau menanggung sakit tak terperi pedih dan
pilunya hati kurasakan melampaui segalanya.
Lebih dari segalanya aku ingin menjadi putrimu.

Tak ada gunanya sekarang, aku meregang nyawa
dalam sengsara tak terkatakan. Hanya hal-hal
buruk yang terlintas di benakku. Begitu ingin aku
mengatakan bahwa aku mengasihimu, sebelum
aku pergi. Tapi, aku tak tahu kata-kata yang dapat
engkau mengerti.

Dan segera saja, aku tak lagi punya napas untuk
mengatakannya; aku mati.

Aku merasa diriku terangkat, seorang malaikat
besar membawaku ke suatu tempat yang besar
dan indah. Aku masih menangis, tapi segala rasa
sakit tubuhku sirna sudah. Malaikat membawaku
kepada Tuhan dan membaringkanku dalam pelukan
Nya. Tuhan mengatakan bahwa Ia mencintaiku.
Lalu, aku merasa bahagia. Kutanya pada-Nya, apa itu yang
membunuhku.

Jawab-Nya,
“Aborsi, Aku menyesal anak-Ku; karena Aku tahu
bagaimana ngeri rasanya.”

Aku tidak tahu apa itu aborsi; Aku pikir mungkin
nama monster itu.

Aku menulis untuk mengatakan betapa aku
mengasihimu……dan mengatakan padamu betapa
ingin aku menjadi putri mungilmu.

Aku telah berjuang sehabis-habisnya untuk hidup,
aku ingin hidup……! Kuat keinginanku, tapi aku tak
mampu; monster itu terlalu kuat…Dicabik-cabiknya
lengan dan kakiku dan akhirnya seluruh
tubuhku…..

Tak mungkin bagiku untuk hidup. Aku hanya ingin
engkau tahu bahwa aku berusaha tinggal
bersamamu. Aku tidak mau mati! Juga Mama,
berhati-hatilah terhadap monster bernama aborsi itu.
Mama aku mengasihimu…..Aku sedih engkau harus
menanggung rasa sakit seperti yang kualami.

Berhati-hatilah,

Peluk cium,
Bayi Perempuanmu………

Saat Pertama Kali

Posted in Starting Live dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , , , on Januari 14, 2009 by journeygotodie

Saat pertama kali ku buka mataku di dunia ini aku takut

Aku takut tak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah

Aku takut tak dapat membedakan Hitam dan putih dalam warna hidupku

Tapi Ayah dan Ibuku selalu ada untuk memberikan kedua mata batinnya untukku

Agar aku tak jatuh terjerembab oleh lubang – lubang yang akan ku buat dari keteledoranku


Saat Pertama kali aku mulai bisa berkata

Tak banyak kata yang terucap dari bibir ku ini

Aku takut tuk berucap banyak yang nanti akan menjadi fitnah dan dusta

Aku takut tak dapat berkata jujur karena aku takut akan selalu mengingkari

Tapi Ayah dan Ibuku selalu ada untuk mengajariku setiap kata yang penuh kasih

Bertutur lembut dan berwibawa selembut awan yang cerah di pagi hari

Agar aku tak menjadi penipu..yang kelak akan menipu sesama saudaranya sendiri


Saat Pertama kali aku mulai melangkah aku takut

Aku takut melangkah kejalan yang sesat

Jalan dimana tak dapat kutemukan kedamaian dan cinta kasih disana

Tapi Ayah dan Ibuku mereka selalu ada tuk menuntun langkahku

Agar aku tak tersesat di jalan sang waktu yang panjang

Agar aku tak menjadi orang yang hilang arah tujuan hidup


By : Arfian